Skip to content

Gubug IT

IT and Design News Update

Hampir setahun setelah Windows Vista pertama kali diluncurkan, hanya 13% perusahaan yang mengatakan bahwa mereka akan memigrasikan seluruh desktop mereka ke operating system (OS) baru ini, menurut sebuah survei yang dirilis minggu ini. Selain itu, adopsi Linux semakin cepat dengan fokus utama di segmen desktop.

Sebuah survei yang melibatkan 961 profesional TI menunjukkan bahwa 90% masih ragu untuk migrasi ke Vista, dan 48% masih belum memakai Vista sama sekali. 44% mengatakan mereka tengah mempertimbangkan OS alternatif, terutama Mac OS X, Ubuntu, Red Hat dan Novel Suse Linux.

Akan tetapi analis Clive Longbottom dari Quocirca juga memperingatkan bahwa kita harus berhati – hati dalam mengambil kesimpulan dari statistik yang ada. Menurut Longbottom, “hanya sedikit sekali perusahaan yang mempertimbangkan Linux untuk menggantikan Microsoft.”

Longbottom juga menentang kepercayaan umum bahwa para pemakai akan dapat melakukan migrasi ke Linux dengan lebih mudah dibandingkan mengadopsi GUI baru Vista. “Memang pemakai membutuhkan sedikit waktu untuk menemukan sesuatu di Vista, akan tetapi kebanyakan orang dapat menemukannya dengan usaha sendiri dan hanya membutuhkan waktu training kurang dari 1 jam.” Dan walaupun Linux bebas biaya, akan ada banyak usaha yang diperlukan untuk mentransfer benda – benda seperti macro di Word dan Excel.

“Masalah besar Microsoft bukan Linux, akan tetapi kesulitan yang dialami saat meng-upgrade desktop ke Vista. Perangkat keras tua harus diperiksa, jadi Vista adalah solusi instalasi untuk komputer baru,” tambah Longbottom. Banyak pemakai ini menunggu apakah Vista Service Pack 1 (SP1) akan memudahkan hal ini dan khawatir akan adanya masalah kompatibilitas dengan aplikasi lain.

Hasil awal dari survei tahunan Linux Foundation menunjukkan bahwa di perusahaan yang telah menggunakan desktop Linux, hanya kurang dari 40% yang menggunakan Linux di lebih dari setengah komputer yang mereka miliki. Dan di kebanyakan tempat itu, Linux lebih banyak dipakai di desktop dibandingkan server, yang ternyata bertolak belakang dengan kepercayaan umum bahwa Linux adalah, dan akan terus merupakan OS untuk server.

Akan tetapi Longbottom juga mengatakan, dari data pemakaian OS yang diambil lewat situs – situs populer, pemakaian Linux “masih kurang dari 1%, setelah 15 tahun Linux masuk ke segmen desktop – hal ini lebih sedikit daripada yang dicapai Vista dalam satu tahun.”

Analis Glyn Moody mengatakan “yang pasti, desktop berbasis free software tumbuh dengan baik, dan ini tidak hanya disebabkan karena orang – orang seperti Canonical (pencipta Ubuntu) yang bekerja keras membuat pemakaian semudah Windows. Saya merasa bahwa desktop telah menjadi market tua yang semakin tidak penting.”

Ada tiga peluncuran besar yang membuktikan hal ini: “PC Asus Eee kelihatannya akan menciptakan sebuah kategori baru di PC portabel yang ultra small, ultra cheap. Windows tidak dapat bersaing di sini: semakin murah perangkat keras yang digunakan, semakin besar persentase biaya yang perlu dibayar ke Microsoft untuk lisensi Windows.” Ada juga Everex Green gPC TC2503 (Google PC), yang merupakan sebuah sistem berbasis web yang mengoperasikan GNU/Linux.

“Dan akhirnya, apabila platform ponsel Google Android menjadi populer, kita akan melihat ratusan juta, atau bahkan milyaran sistem berbasis Linux yang menggunakan aplikasi web seperti gPC, tetapi tidak di desktop,” lanjut Moody. “Jadi, mempertanyakan apakah GNU/Linux akan meraup pangsa pasar yang lumayan untuk segmen pasar desktop adalah pertanyaan yang salah, karena ini adalah jaman dulu. Apa yang jauh lebih menarik saat ini adalah pangsa pasar untuk sektor komputer masa depan, sistem berbasis web, alat – alat portabel, ponsel, dan di sini sudah jelas GNU/Linux sudah berada jauh di depan.

Klik di sini dan disini untuk sumber artikel.

thanks to sushi dan udaramaya.com

%d blogger menyukai ini: